Senin, 28 Maret 2011

Pemain Sepakbola pun Menangis

PERSETERUAN pemerintah dengan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) terus berlanjut. Puncaknya ketika pemerintah melalui Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menegpora) Andi Alfian Mallarangeng memberikan kartu merah kepada Ketua Umum PSSI Nurdin Halid dan kroninya.

Kroni Nurdin dimaksud adalah Nugraha Besoes dan Nirwan Bakrie. Ketika orang tersebut dinilai setali tiga uang dalam mengelola PSSI. Akibatnya Timnas Indonesia tidak pernah mengukir prestasi, meski PSSI mengontrak pelatih asing dan melakukan naturalisasi.

Kesabaran pecinta sepakbola terhadap sepak terjang Nurdin cs mencapai klimaks ketika Tim Merah Putih gagal meraih mahkota AFF 2010. Indonesia ditekut Malaysia 2-4. Usai laga beredar isu bahwa pertandingan tersebut dijual oleh elit PSSI. Beralasan memang karena Indonesia harus mengakui Malaysia 0-3. Sementara pada babak penyisihan Indonesia melindas Malaysia 5-1.

Gelombang demonstrasi terus mengalir di berbagai provinsi. Tuntutannya satu, meminta trio N yakni Nurdin-Nugraha-Nirwan meletakkan jabatannya di PSSI. Aksi demonstrasi tampaknya tidak membuat Nurdin sadar diri. Dia tetap pada pendiriannya yakni berambisi kembali memimpin PSSI. Bahkan Nurdin bersama orang loyalnya mencoret KSAD George Toisutta dan penggagas LPI Arifin Panigoro sebagai bakal calon ketua umum PSSI periode mendatang.

Melihat gejala inkonstitusional ini, Menegpora dengan wewenangnya mengimbau PSSI agar menjalankan kegiatan organisasinya berdasarkan statuta FIFA. Dengan alasan sudah memperoleh persetujuan FIFA, Nurdin menggunakan statuta PSSI dalam kongres. Padahal ada pasal yang diplintir PSSI, terkait status calon ketua umum.

Dalam statuta FIFA disebutkan, seseorang yang pernah terlibat tindak kriminal dan dinyatakan bersaalah oleh pengadilan tidak bisa menjadi calon ketua umum. Sementara PSSI mengubah statuta itu dengan seorang calon ketua umum tidak terlibat dalam tindak kriminal saat berlangsungnya kongres.

Puncaknya terjadi ketika PSSI menggelar kongres untuk memilih komite pemilihan dan komite banding di Pekanbaru, Kepulauan Riau. PSSI pro-Nurdin gagal menjalankan kongres karena 'direbut' Komisaris Utama Persebaya 1927 Saleh Mukadar bersama anggota Komite Penyelamat Persepakbolaan Nasional (KPPN).

PSSI sendiri akhirnya gagal menentukan komite pemilihan dan komite banding. Dua agenda tersebut diambil alih Saleh dan KPPN dan berhasil membentuk dua komite tersebut. Meski janggal, mereka tetap mengirim hasil tersebut kepada FIFA. Situasi ini rupanya membuat Nurdin berang dan menggelar jumpa pers seakan-akan arena kongres sangat mencekam. Bahkan Nurdin menabuh genderang perang dengan Menegpora.

Nurdin menantang dengan menyatakan tetap menjalankan agenda yang telah disusun, demi mempertahankan martabat PSSI. Dia menghardik bahwa pemerintah dalam hal ini Menegpora tidak berhak mencampuri terlalu dalam dalam kegiatan PSSI.

Menyikapi ulah Nurdin ini, Menegpora atas nama pemerintah Indonesia akhirnya mengeluarkan keputausan. Pemerintah menghentikan sejumlah fasilitas untuk menyelenggarakan pertandingan yang selama ini diterima PSSI.

Pemerintah juga tidak akan memberikan dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk membiayai klub hingga terbentuk kepengurusan yang baru. Seluruh jajaran pemerintah baik di pusat maupun di daerah, termasuk Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), tidak bisa lagi memberikan pelayanan dan fasilitas kepada pengurus PSSI.

Kepalang basah, demikian kiranya yang ada dalam pikiran Nurdin. Politikus Partai Golkar ini menegaskan konstitusi PSSI tidak harus mendapat pengakuan dari pemerintah. Tidak ada dalam statuta PSSI, FIFA ataupun AFC aturan tersebut.

Sadar atau tidak sadar, sikap keras Nurdin ini terlah melukai perasaan para pemain baik yang tergabung dalam Timnas Indonesia atau yang hanya memperkuat klub. Bisa dibayangkan sepakbola Indonesia yang masih amatir harus mencari dana sendiri. Tanpa bantuan pemerintah, PSSI pasti kesulitan mencari sponsor yang bersedia mendanai pembinaan di Indonesia.

Realita ini menjadi cikal bakal kehancuran para Garuda Indonesia. Tanpa APBD, sebagian besar klub binaan PSSI tidak akan bisa membayar gaji para pemainnya. Sekolah sepakbola yang mendapat suntikan dana dari pemerintah juga terancam ditutup. Apalagi beberapa fasilitas lainnya juga dicabut oleh pemerintah.

Andaikata Nurdin memiliki jiwa kesataria, pasti kondisi PSSI tidak serunyam ini. Ketua PSSI yang kontroversial telah membuat pemain kebanggaan Indonesia menangis. Fakta itu tidak membuat Nurdin merendah. Hal ini menimbulkan satu pertanyaan, mengapa Nurdin, Nugraha dan Nirwan bergitu kompak ingin tetap menguasai PSSI? Apakah karena PSSI dikenal sebagai cabang olahraga dengan "ladang yang basah"?

Jangan korbankan masa depan pemain hanya karena satu kepentingan pribadi atau kelompok. Olahraga selalu mengusung sportivitas, bukan kepentingan. Marilah semua pihak memikirkan yang terbaik bagi sepakbola Indonesia, bukan terbaik bagi diri sendiri dan sekelompok orang.

Intel Juga Manusia

Tahukah Anda, di usia republik yang hampir 66 tahun, Indonesia belum memiliki Undang-Undang Intelijen. Baru pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri otoritas institusi intelijen negara, Badan Intelijen Negara (BIN), diatur melalui peraturan presiden.

Hingga kini semua Badan Intelijen Negara tidak memiliki payung undang-undang untuk melaksanakan tugas-tugas mereka. Hiruk-pikuk mengenai perlunya undang-undang yang mengatur intelijen baru muncul pada era reformasi dan datang dari dua pihak. Pihak pertama adalah BIN yang membutuhkan payung undang-undang agar segala yang mereka lakukan dibenarkan oleh undang-undang.

Pihak kedua adalah kalangan masyarakat sipil baik secara individu maupun kelompok lembaga swadaya masyarakat, dimotori oleh Pacifis Universitas Indonesia, yang bergabung ke dalam asosiasi bernama Simpul Aliansi Nasional untuk Demokratisasi Intelijen (SANDI). Pihak kedua ini merasa bahwa UU Intelijen adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi, karena dari semua institusi yang terkait dengan keamanan negara, hanya lembaga intelijen yang belum memiliki undang-undang.

Dua pihak yang sama-sama memandang perlu ada Undang-Undang Intelijen itu kemudian berdialog dari hotel ke hotel di Jakarta antara 2005-2006 membicarakan apa saja substansi isi undang-undang intelijen. Kalangan masyarakat sipil memandang UU itu amat mendesak sejak terbunuhnya aktivis HAM Munir pada Oktober 2004 di atas pesawat Garuda yang membawanya ke Amsterdam untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Diduga keras, ada tangan-tangan intelijen dalam pembunuhan rekan kami Munir. Karena itu, gerakan untuk mereformasi institusi intelijen adalah suatu yang amat mendesak. Slogan yang dikumandangkan kalangan masyarakat sipil tersebut adalah: “Intel juga manusia, karena itu bisa direformasi,” dan, “Merokok/sepak bola saja ada aturannya, masak intel nggak!”

Alot

Diskusi mengenai substansi Undang-Undang Intelijen berjalan alot, namun tetap dalam suasana kekeluargaan. Mereka yang hadir adalah kalangan intelijen Polri, TNI, Kejaksaan, BIN, BAIS, akademisi, aktivis LSM dari KontraS, Imparsial, Propatria, dan sebagainya. Kalangan intelijen lebih banyak bicara mengenai otoritas mereka dan keperluan akan adanya payung hukum. Kalangan masyarakat sipil lebih menekankan apa yang harus dilakukan dan dilarang bagi intelijen dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Jika kalangan intelijen ingin memiliki hak untuk menggeledah rumah atau menyadap telepon orang yang dicurigai akan melakukan kejahatan, kalangan masyarakat sipil mengingatkan agar hak itu harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Kejaksaan Agung agar tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan atau otoritas. Jika kalangan intelijen menginginkan ada hak untuk menangkap 7x24 jam untuk mengali informasi yang penuh dari tersangka atau orang yang dicurigai, kalangan masyarakat sipil mengingatkan adalah tugas intelijen untuk menggali informasi rahasia tanpa menangkap orang.

Ini untuk menunjukkan profesionalitas intelijen. Jika intelijen punya hak untuk menangkap, ini bisa jadi merupakan legalisasi penculikan orang yang belum tentu bersalah atau menjadi anggota kelompok yang merencanakan kejahatan terhadap negara. Intel juga tidak memiliki hak untuk bertindak melebihi tugasnya untuk menggali informasi rahasia agar negara terhindar dari pendadakan strategis.

Jika tidak, aparat intelijen bisa melakukan tiga hal sekaligus: menggali informasi, menangkap, dan menyergap, yang dua terakhir itu seharusnya menjadi wewenang pihak keamanan lain, polisi atau TNI. Alasan kalangan masyarakat sipil membuat rambu-rambu semacam itu karena kita tidak ingin memiliki institusi intelijen yang sama dengan intelijen Orde Baru yang bukan saja menggali informasi, melainkan juga menangkap, menculik, atau bahkan menghilangkan orang yang tidak disukai negara, walau belum tentu ia seorang kriminal atau penjahat negara.

Mengapa pula harus ada pasal mengenai aparat intelijen yang harus profesional dan berhak mendapatkan pendidikan lanjutan agar lebih profesional? Ini disebabkan kalangan masyarakat sipil tidak ingin Indonesia memiliki intelijen sekaliber “Intel Melayu”di era Orde Baru ke mana pun mereka pergi selalu memperkenalkan diri,“Saya dari Pejaten,”(BAIS) atau “Saya dari Pasar Minggu/ Pejaten,”(BIN) atau “Saya dari Senayan,” (Kantor BAKIN lama) atau “Saya dari Intel Kodam.”

Kita juga merasa aneh saja dengan kelakuan intel Melayu yang selalu menonjolkan “beceng” (pistol) mereka, padahal mereka sedang melakukan kegiatan “under cover intelligence.” Kita juga ingin agar ada pengawasan berjenjang pada institusi intelijen, dari pengawasan internal, pengawasan eksekutif oleh negara, pengawasan oleh lembaga legislatif dalam bentuk komite khusus intelijen di dalam Komisi I DPR/RI yang para anggotanya disumpah agar tidak membocorkan rahasia negara pascarapat kerja dengan lembaga-lembaga intelijen negara.

Bukan untuk melucuti wewenang BIN, kalangan masyarakat sipil juga ingin agar ada pemisahan antara Lembaga Koordinasi Intelijen Negara (LKIN) yang akan dipegang BIN, persis sama dengan Office of National Assessment (ONA) yang berada di bawah Perdana Menteri Australia sebagai koordinator informasi intelijen.Ada institusi intelijen dalam negeri terpisah dari intelijen luar negeri seperti ASIO (Australian Security Intelligence Organization) untuk dalam negeri dan ASIS (Australia Secret Intelligence Service) untuk luar negeri.

Selain itu, ada juga organisasi intelijen pertahanan (Defense Intelligence Organization). Ini ditambah dengan intelijen yustisia dan badanbadan pemerintah di pusat dan daerah, termasuk lembaga penelitian sosial dan eksakta yang dapat membantu kinerja badan-badan intelijen kita.

Jauh Panggang dari Api

Membaca RUU Intelijen Negara versi 13 Desember 2010,saya cuma bisa mengurut dada, betapa lemahnya RUU ini. Banyak hal yang secara logika tidak koheren seperti antara Pasal 5 mengenai tujuan intelijen negara dan Pasal 6 mengenai fungsi intelijen negara. Tujuan deteksi dini bisa berganti dengan penggalangan dan pengamanan yang bukan lagi urusan intelijen, melainkan urusan aparat pertahanan dan keamanan kita yang memang memiliki otoritas untuk menangkap atau melemahkan lawan.

Pasal 8 dan 9 mengenai Penyelenggara Intelijen Negara juga amat sumir dan sederhana, tanpa diatur oleh undang-undang yang rigid di dalam RUU ini.Semua institusi intelijen dapat mengatur dirinya sendiri, sesuatu yang harus diatur secara komprehensif di dalam UU Intelijen. Lembaga intelijen negara (dengan huruf kecil) juga akan menjadi superbodi seperti BAKIN pada masa Orba, yaitu sebagai koordinator badanbadan intelijen negara sekaligus sebagai intelijen dalam negeri dan luar negeri. Ini berarti BIN tidak mau mereformasi dirinya dan ingin kembali ke masa BAKIN Orde Baru.

Pengawasan terhadap intelijen juga hanya dilakukan lembaga legislatif melalui panitia kerjanya, sesuatu yang amat terbatas sekali otoritas dan keahliannya. Intelijen juga memiliki hak untuk menyadap (Pasal 31 soal intersepsi) tanpa ada surat izin dari Kejaksaan Agung. Pemerintah melalui Daftar Isian Masalah (DIM)-nya pada Pasal 15 ayat (1) sampai (3) bahkan menginginkan diberikannya hak untuk menangkap bagi intelijen, sesuatu yang menjadi hak polisi.

Jika kita telusuri secara terinci, masih banyak kelemahan di dalam RUU Intelijen ini. Tapi anehnya, seperti diutarakan seorang anggota Komisi I dari Partai Demokrat dalam talkshow di Metro TV, Jumat, 25 Maret lalu, pembahasan RUU ini sudah hampir rampung. Kita jadi bertanya, beginikah kapasitas DPR kita saat memiliki hak inisiatif untuk membuat RUU yang hasilnya jauh lebih buruk jika RUU itu dibuat oleh pemerintah. RUU intelijen ini sudah lemah akan dilemahkan pula oleh pemerintah melalui DIM-nya yang aduhai banyaknya.

IKRAR NUSA BHAKTI
Profesor Riset Bidang
Intermestic Affairs LIPI

Jurusan Nano Teknologi & Bioteknologi Lagi Nge-trend

Pemilihan jurusan saat kuliah mempengaruhi dunia kerja kelak. Biasanya calon mahasiswa memilih fakultas atau jurusan berdasarkan tren. Lalu jurusan apa saja yang saat ini lagi nge-trend?

Menurut Rektor ITB Akhmaloka, saat ini arah sains dan teknologi trennya ke nano teknologi dan bioteknologi. Nano teknologi banyak disupport Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI)

"Sekarang kan teknologi komunikasi lagi booming, sektor pasarnya juga tinggi sekali. Jadi STEI, teknik elektro, pasarnya luar biasa sekali," ungkapnya.

Sementara Sekolah Farmasi (SF) ITB jadi kompetitif dunia kerja karena mensuport bioteknologi di bidang medikal sains-nya.Begitu juga dengan FTI, terutama jurusan teknik kimia. Jurusan ini di Indonesia lagi naik, meski di negara lain sudah banyak ditinggal.

"Karena teknik industri di Indonesia sedang berkembang sekali," tuturnya.

Karyawati Citibank bobol dana nasabah Rp. 17 M

karyawati Citibank Jakarta nekat merampok dana nasabah sebesar Rp17 miliar. Berbagai modus untuk mengeruk uang nasabah yakni memanipulasi data rekening, memindahkan rekening nasabah ke rekening milik MD.

"Tersangka MD sengaja melakukan kejahatan dengan mengaburkan transaksi dan pencatatan tidak benar terhadap beberapa slip transfer penarikan dana pada rekening nasabah. Untuk memindahkan sejumlah dana milik nasabah tanpa izin ke beberapa rekening yang dikuasai oleh pelaku (MD)," ungkap Kadiv Humas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam di Mabes Polri Jakarta, Jumat (25/3/2011).

Dilanjutkan kasus ini terungkap, setelah ada laporan dari management Citibank ke kepolisian. Juga ada korban yang lapor seluruh isi rekeningnya berkurang cukup signifikan. Jenderal bintang dua ini, enggan menyebutkan jabatan MD di Citibank.


Hingga kini, sambung Anton, masih mengumpulkan data jumlah nasabah yang menjadi korbannya. "Kami meminta jika ada nasabah Citibank, yang dananya hilang hendaknya segera lapor ke polisi," sarannya.

Wanita berparas cantik dan bertubuh seksi ini, ditangkap Kamis (24/3) malam di Jakarta, polisi juga menyita mobil Hammer-3 Luxury Sport Utility B 18 DIK senilai Rp3,4 miliar, yang diduga hasil kejahatan pembobolan uang nasabah.

Setelah menjalani pemeriksaan intensif, MD langsung ditahan di Rutan Bareskrim Polri. MD dikenakan pasal penggelapan, sebagaimana Undang-undang No 8 Tahun 2010 tentang Pencucian Uang atau money laundring.

Penyidik Bareskrim sudah memeriksa 13 orang saksi, terdiri pimpinan dan karyawan Citibank, juga tiga orang korban yang dana rekeningnya di bank asal Amerika ini dikuras MD.

Polisi juga mengembangkan kasus ini terhadap tersangka lainnya, yang diduga melakukan persekokolan untuk membobol dana nasabah Citibank, mengingat diduga kuat MD tidak sendirian dalam menjalankan aksinya.

Ditta Amahorseya, Director, Country Corporate Affairs Head Citi Indonesia menjelaskan kasus ini merupakan kejadian yang hanya terjadi di satu tempat. Citibank telah bertindak cepat untuk menghubungi seluruh nasabah yg mungkin terkena dampak.

"Sesuai komitmen kami untuk melindungi kepentingan nasabah kami, termasuk secepatnya mengembalikan kerugian yang dialami oleh nasabah yang hilang melalui transaksi tidak sah di dalam rekening mereka secara adil dan tepat waktu," papar Ditta dalam keterangan tertulis yang diterima kabarbisnis.com

Citibank bekerja sama penuh dengan seluruh pihak berwenang terkait. Staf yang terlibat tidak lagi bekerja pada Citibank. "Mengingat kasus ini masih dalam tahap penyelidikan, kami tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut," ungkapnya.

Senin, 09 November 2009

Tahun Corporate Entrepreneurs

AKHIR tahun ini hotel-hotel berbintang kembali ramai dipenuhi berbagai rapat kerja. Para eksekutif kembali sibuk mempersiapkan rencana-rencana bisnis pascapemilu.
Ada yang datang dengan konsep-konsep dan rencana yang sudah dirumuskan jauh-jauh hari, tak sedikit pula yang baru memulainya. Dari berbagai interaksi dengan para eksekutif puncak, saya menemukan tiga jenis rencana yang dibuat perusahaan dengan pendekatan yang berbeda-beda. Pertama, rencana "as usual" yang berisi program-program pengulangan dari apa yang telah dilakukan pada tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya.

Organisasi yang membuat rencana seperti ini jelas kehilangan pemimpin,terisolasi dari dunia luar,dan cenderung bersikap spending,bukan investing. Kedua, rencana ekstrapolatif. Ini adalah rencana yang dibuat manajer- manajer profesional yang cerdas, namun mereka membuat banyak justifikasi atas keputusan-keputusan yang mereka ambil.

Berbagai data, hasil riset, serta opini-opini dan tren bisnis yang diperoleh dari para ahli dan para trend setters ditampilkan untuk menunjukkan bahwa langkah yang mereka ambil tidak nyeleneh. Karena itulah wajar mereka hanya membuat eksploitasi linear dari bisnis yang sudah berjalan. Jadi kalau perekonomian diramalkan akan tumbuh 5 persen, mereka hanya berani tumbuh antara empat-enam persen saja. Tak ada perubahan apalagi revolusi.

Rencana Revolusi

Ini adalah bentuk rencana ketiga yang disodorkan oleh orangorang yang saya sebut sebagai pemimpin. Jelas mereka bukan manajer biasa, karena manajer profesional bekerja dengan sistem dan mempertahankan sistem yang sudah ada. Pemimpin bisnis melakukan perubahan mendasar, mengubah arah atau melompat pada kurva kedua yang lebih tinggi. Break the cycle.

Pemimpin bisnis seperti ini disebut juga intrapreneur, atau corporate entrepreneur. Mereka terdiri dan visioner yang berani dan seorang risk taker yang berhitung (calculated risk taker). Jadi ia bukanlah penjudi yang gegabah dan menuruti hawa nafsunya belaka,melainkan seseorang yang mampu melihat jauh ke depan, berhitung, namun gagah berani menghadapi semua kesulitan yang akan muncul.

Lo, bukankah entrepreneurs itu pemilik perusahaan? Benar, namun di era yang penuh dengan perubahan, sangat berbahaya memisahkan, apalagi mengisolasi, entrepreneur dengan employee (karyawan) atau manager. Bagi Indonesia yang pasarnya terbentang luas, potensi sumber dayanya sangat beragam dan besar - namun pasarnya sangat terbuka dan lingkungannya chaotic (unpredictable) - maka membiarkan perusahaan dipimpin oleh karyawan biasa, atau profesional manajer yang gemar memelihara tradisi,akan sangat berbahaya.

Menciptakan Pejuang Pembebasan

Mengapa berbahaya? Karena potensi yang sangat besar dan lingkungan yang chaotic ini tidak bisa dikelola secara biasa-biasa saja.Potensi yang besar akan selalu mengundang pemain-pemain baru, baik pendatang dengan usaha yang sejenis (direct competitor), maupun produk-produk alternatif sebagai pengganti keberadaan Anda (subtitusi).

Apalagi Indonesia saat ini dipandang sebagai pasar yang menarik di Asia setelah China dan India. Keikutsertaannya dalam forum G-20 telah menarik perhatian. Selanjutnya, lingkungan yang chaotic sangat rawan bila diserahkan kepada eksekutif-eksekutif yang menghendaki ketenangan. Mereka hanya memelihara tradisi untuk mengamankan posisi. Mereka juga berhitung, tetapi miskin keberanian, apalagi untuk memimpin "pemberontakan" meraih keberhasilan.

Dalam banyak hal, lingkungan yang chaotic membutuhkan pejuang-pejuang pembebasan yang mampu melakukan revolusi usaha. Pejuang-pejuang pembebasan ini melihat perusahaan atau institusi yang dipimpinnya telah disandera sekelompok elite yang sarat kepentingan pribadi dan berkacamata sempit.

Sue Birley dan Daniel Muzyka, peneliti kewirausahaan,menyebut pejuang pembebasan itu sebagai pemberontak-pemberontak kreatif. Dari tangan para pejuang pembebasan itu perusahaan menemukan masa depan baru yang tak terbayangkan sebelumnya. Itulah yang membawa pembuat chipsterkemuka, Intel, beralih dari microprocessorke memory chips dan menjadikan pembuat sepatu bot Nokia, beralih sebagai produsen ponsel yang fashionable.

Perusahaan-perusahaan, bahkan lembaga pemerintahan, jelas merupakan bentuk-bentuk rencana revolusioner yang dipikirkan pejuang-pejuang pembebasan. Pejuang-pejuang itu harus dibentuk, ditanam,dan disiapkan sejak mereka berusia muda. Mereka sudah diperkenalkan basic management, sampai risk management.

Kini saatnya menjadikan anakanak muda sebagai intrapreneur yang tajam mengendus peluang, action oriented, berwawasan kebebasan, dan berjiwa kreatif. Indonesia di tahun-tahun mendatang adalah Indonesia yang dikenal dengan perusahaan-perusahaan yang sehat, dengan motor entrepreneur-entrepreneur modern.

Inilah saatnya menutup cara-cara membuat rencana yang bersifat tradisional dan ekstrapolatif. Cobalah masuki alam berpikir baru dengan berpikir besar (think big), paradoksal, dan kreatif. Banyak keajaiban yang akan Anda lihat di akhir 2010. Selamat membuat rencana perubahan.

Kesempatan Emas Ada di Mana-Mana

PELUANG emas dalam karier bisa muncul dari mana saja. Anda hanya perlu menajamkan insting dan pandai membaca situasi untuk bisa menemukannya. Namun bagaimana caranya?
Anda mungkin pernah bertemu seseorang yang pandai memanfaatkan segala peluang atau kesempatan untuk mengembangkan kariernya. Dalam setiap pertemuan atau perbincangan dengan seseorang, pasti selalu bisa menghasilkan sesuatu yang positif bagi kariernya. Sebenarnya, Anda pun bisa melakukan hal yang sama. Namun, tentu saja ada beberapa hal dasar yang harus Anda lakukan. Pertama, Anda harus yakin dengan diri Anda sendiri bahwa apa yang Anda inginkan pasti bisa Anda lakukan. Rasa takut atau keraguan mungkin saja muncul dan menyurutkan obsesi Anda,namun justru itulah saatnya Anda bangkit dan keluar dari zona aman Anda.

Jika Anda masih tak berani keluar dari zona aman tersebut, kesempatan emas yang bertebaran di depan Anda bisa saja lewat dengan sia-sia. Nah, agar kesempatan tersebut tidak hilang dan menjadi sia-sia, Kimberly Wiefling, konsultan manajemen dan business leadership dari Wiefling Consulting,menyatakan bahwa satu-satunya jalan ialah dengan jangan pernah berpikir dan melakukan suatu hal dengan cara yang sama. Lebih lanjut, Kimberly memberi panduan, ada lima cara yang bisa ditempuh untuk membuka peluang dan berbagai kesempatan yang bisa memperbaiki kualitas hidup dan kerja ini,seperti dikutip dari womensmedia.com.

1. Memperbaiki kemampuan mendengarkan

Komunikasi sering kali dilakukan dengan tidak efektif. Kebanyakan orang lebih suka didengarkan daripada mendengarkan.Padahal, mendengarkan atau menjadi pendengar yang baik justru bisa menghasilkan kekuatan yang luar biasa.

Dengan mendengarkan mengapa ada hambatan dalam sebuah pekerjaan, baik pekerjaan yang dilakukan rekan kerja maupun bawahan, mendengarkan soal ketidaksetujuan terhadap suatu hal, mendengarkan berbagai keluhan yang muncul, maka Anda bisa berkomunikasi atau memberikan jawaban yang efektif dan memuaskan bagi orang-orang yang mengeluh. Kemampuan mendengarkan juga bisa meningkatkan kualitas komunikasi dan hubungan sosial kita.Kebiasaan mendengarkan juga bisa dilakukan semudah kebiasaan berbicara. Kebiasaan mendengarkan mengacu pada menempatkan perhatian penuh pada apa yang diucapkan seseorang. Caranya, jangan dulu bertanya tentang "mengapa? atau "bagaimana?.

Pertanyaan ini justru akan menghambat percakapan atau hal inti yang ingin disampaikan seseorang. Lebih baik pahami dulu bagaimana cara berpikirnya tentang masalah yang disampaikannya,baru kemudian ditanggapi agar bisa membantunya untuk berpikir jernih. Sebagai petunjuk, Kimberly memberi panduan untuk mengatakan kalimat seperti, "ide yang bagus", "coba ceritakan lebih jauh tentang hal itu", "menarik! Apa lagi?", apa yang membuat hal itu menjadi masuk akal?? untuk memancingnya mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.

2. Kekuatan dari berpikir negatif

Barbara Sher, seorang konsultan karier,menyarankan agar mengeluarkan setiap pikiran negatif dengan mengatakannya kepada orang lain. Misalnya, Anda punya ketakutan atau keluhan tentang pekerjaan Anda, coba katakan kepada rekan kerja atau teman-teman Anda. Bilang kepada mereka bahwa Anda ingin mengeluh dan mengeluarkan pikiran negatif itu selama beberapa menit.

Mereka cukup mendengarkan saja,tanpa harus memberi komentar atau memberi solusi. Saat Anda mengkritisi sesuatu, marah-marah, atau mengeluh, Anda akan merasakan betapa pikiran negatif Anda sebenarnya tak berguna.Anda juga akan menyadari betapa lega hati Anda saat sudah melepaskan pikiran negatif tersebut.

3. Nasihat dari ahli

Masalah ada di mana-mana dan Anda mungkin tidak bisa menemukan jawabannya. Padahal, jawaban yang Anda butuhkan mungkin ada di hadapan Anda. Kimberly menyarankan agar saat Anda butuh jawaban, cobalah manfaatkan teman Anda untuk memilih sebuah profesi dan menasihati Anda dari sudut pandang profesi tersebut. Misalnya, minta teman Anda untuk menjadi seorang dokter, CEO, atau astronot. Coba tanya pendapat mereka jika menghadapi situasi yang sama dengan Anda. Cara ini menuntut Anda untuk berpikir kreatif, menghasilkan jawaban-jawaban brilian yang mungkin tak terduga sebelumnya.

4. Waspada vs Ketakutan

Apa yang menghalangi Anda untuk meraih obsesi dan cita-cita Anda? Apakah Anda waspada akan banyaknya hambatan atau takut menghadapi hambatan tersebut? Waspada adalah hal yang baik. Hal tersebut membuat Anda bersiap-siap untuk mengatasi bahaya atau hambatan, baik hambatan yang bersifat fisik, spiritual, mental, sosial,maupun apa pun.Hargai dan perhatikan rasa ?takut? tersebut.

Bersiaplah untuk mengatasinya jika hal tersebut datang. Tapi jika yang menghalangi Anda adalah sebuah ketakutan,itu berarti Anda tak melakukan apa pun untuk mengatasinya. Anda hanya mundur perlahan-lahan dan mengubur mimpi dan obsesi tersebut. Coba tanyakan kepada diri Anda sendiri,apakah hal terburuk yang mungkin terjadi? Jika sudah menemukan jawabnya, segera cari cara untuk mengatasi hal tersebut sehingga Anda sudah memiliki persiapan matang saat menghadapinya. Jadi, mulailah beraksi!

5. Komitmen

Obsesi tanpa aksi hanyalah sebuah ilusi. Selama Anda belum melakukan apa pun untuk mewujudkan obsesi tersebut, berarti hal itu masih sebatas mimpi.Aksi seperti apakah yang akan Anda lakukan untuk mewujudkannya? Yakinlah bahwa komitmen dan kepercayaan diri saja yang bisa mengantarkan Anda pada aksi yang jelas untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Cobalah buat jadwal, hal apa yang bisa Anda lakukan pada minggu ini untuk lebih dekat pada mimpi Anda tersebut. Lakukan sekarang juga. Sekali Anda berhasil melakukannya, hal tersebut akan menjadi bahan bakar yang terus memacu dan memotivasi diri Anda untuk semakin dekat dengan mimpi itu.

Apa Itu Dana Darurat?

Gempa yang terjadi di Sumatera Barat (Sumbar) telah menyebabkan banyak korban tewas dan luka-luka, dan di antaranya ada saudara-saudara kita. Kondisi bencana alam ini tidak dapat diprediksi dan tentu tidak diinginkan oleh siapapun kita, namun faktanya selain kerugian non-materi yang tidak ternilai harganya, kerugian materi pun konon mencapai triliunan rupiah. Bagi korban, keluarga korban, dan simpatisan di luar Sumbar, inilah saatnya dana darurat dapat memainkan peranannya.
Dana darurat adalah alokasi dana yang seharusnya menjadi salah satu tujuan finansial dasar setiap orang. Gunanya terutama untuk menutupi keperluan mendesak, tetapi belum dianggarkan alias insidentil, terutama jika pencari nafkah di-PHK atau likuidasi perusahaan atau kerugian usaha.

Namun dalam perkembangannya penggunaan dana darurat juga bermanfaat untuk banyak hal yang insidentil dan darurat seperti jika tidak tercapainya target dana pendidikan saat dibutuhkan, terjadinya kelebihan biaya servis kendaraan, keperluan renovasi atap rumah yang bocor, sampai dukungan dana kemalangan karena meninggal atau dukungan perawatan medis, sandang-pangan-papan karena bencana alam yang terjadi baru-baru ini.

Dana darurat umumnya dihitung berdasarkan besaran tertentu. Menurut Klab KeluargaCerdas123, dana darurat ditentukan berdasarkan pertimbangan status pernikahan, pengeluaran rutin bulanan, dan pola pendapatan. Bagi lajang disyaratkan sampai dengan 4x pengeluaran rutin bulanan, menikah tanpa anak 6x, menikah dengan satu anak 9x, menikah dengan dua anak atau lebih 12x, pensiunan 12x, dan pekerja lepas 12x.

Adakah alokasi dana tabungan yang belum mempunyai tujuan finansial spesifik? Nah ini bisa dikonversi jadi dana darurat awal. Klabers bisa membuka rekening dana darurat berupa produk investasi yang sifatnya likuid dan lebih aman. Contoh dari produk ini adalah rekening tabungan, deposito dan reksa dana pasar uang. Jika dana darurat awal masih di bawah target ideal, Klabers perlu menghitung setoran investasi per bulan sesuai dengan target dana yang telah dihitung. Harus diingat bahwa prinsip investasi juga berlaku di sini, semakin besar jumlah setoran per bulan dan semakin sering kita menyetor maka semakin cepat dana darurat kita akan tercapai. Namun karakteristik dana darurat yang harus likuid mengakibatkan tingkat pengembaliannya tidak terlalu besar, jadi meningkatkan return bukan merupakan pilihan utama dalam kasus ini.

Tantangannya bagi Anda dan saya? Kebiasaan konsumtif ada di urutan pertama tabel tantangan setiap orang. Orang terbiasa gali dan tutup lubang dengan menggunakan kartu kredit. Ini sama dengan menyimpan bom waktu sebenarnya. Kemudian tantangan berikutnya adalah kebiasaan menunda pekerjaan. Kita bicara soal disiplin diri disini. Disiplin menyisihkan uang jika dana daruratnya masih dibawah target, sehingga perlu secara periodik berinvestasi untuk menggapai target dana darurat ideal.

Akhir kata, dalam perencanaan keuangan personal, alurnya adalah benahi dulu manajemen Anggaran Anda, beli polis asuransi jiwa untuk mereduksi risiko hilangnya arus kas pencari nafkah, kemudian bentuk dana darurat dan investasi untuk mencapainya jika di bawah target ideal. Setelah itu baru kita merambah ke investasi lainnya seperti dana pensiun, atau DP Rumah/Apartemen, atau beli kendaraan baru, atau dana pendidikan anak dan tujuan lainnya. Jadi tentukan tujuan finansialmu terlebih dahulu, tapi pastikan Dana Darurat ada di top list!

Jadi, sekarang masalahnya bukan pada datangnya hujan yang semakin tidak bisa diprediksi namun pada motivasi kita untuk menciptakan proteksi bagi orang-orang yang kita sayangi. Yuk kita buat dana darurat sekarang!


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More