Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 April 2011

Kartini: Bangkitkan Suara Subaltern

Kamu tahu motto hidupku? ‘aku mau’. Dua kata sederhana ini telah membawaku melewati gemunung kesulitan. ‘Aku tidak mampu’ berarti menyerah. ‘Aku mau!’ mendaki gunung itu.

Begitu Kartini mengatakan pada Stella Zeehandelaar dalam suratnya tertanggal 23 Agustus 1900. Motto ‘aku mau’ bukan tanpa makna. ‘Aku mau’ menunjukkan keinginan keras Kartini untuk mengubah situasi dan kondisi Indonesia yang saat itu terbilang cukup memprihatinkan: marjinalisasi terhadap perempuan dan kondisi kolonialisme.

Sebagai pejuang, Kartini sebenarnya berdiri sendiri, tanpa didukung oleh organisasi massa yang waktu itu memang belum lahir. Dalam konteks ini, Kartini adalah tokoh perempuan yang mewakili suara perempuan yang tertindas, subordinat, dan nonhegemonik (subaltern).

Tulisan singkat ini bermaksud untuk membangkitkan kembali suara Kartini yang waktu itu terbungkam oleh  kondisi dan tradisi, baik itu kondisi kolonialisme ataupun tradisi Jawa dan ajaran Islam. Harapannya yakni dapat terwujud, apa yang diistilahkan oleh Gayatri Spivak sebagai, ‘one-on-one epistemic change’.

Suara Subaltern

Penggunaan istilah ‘subaltern’ pertama kali digunakan oleh pemikir Marxis kenamaan asal Italia Antonio Gramsci untuk merujuk pada kaum petani asal desa Italia Selatan, yang pencapaian kesadaran sosial dan politiknya terbatas dan kesatuan politik mereka lemah. Dalam bukunya yang berjudul Prison Notebook (1929-1935), Gramsci memakai istilah ‘subaltern’ secara bergantian dengan ‘subordinat’ dan ‘instrumental’ untuk menggambarkan petani tersebut sebagai kelompok atau kelas yang non-hegemonik.

Dengan mengacu pada terminologi Gramsci tentang ‘subaltern’, Kartini dapat disebut sebagai tokoh subaltern meskipun dikenal sebagai anak dari keluarga bangsawan. Mengapa? Karena sebagai anak gadis yang dipingit, lalu dinikahkan secara paksa (subordinat), Kartini tidak hanya berdiam diri. Kartini melawan itu semua, bersuara melawan kesepian karena pingitan, bersuara melawan arus kekuasaan besar penjajahan dari dinding tebal kotak penjara Kabupaten yang menyekapnya bertahun-tahun. Kartini tidak punya massa, apalagi uang. Uang tidak akrab dengan perempuan  hamba seperti Kartini. Yang dipunyai kartini adalah kepekaan dan keprihatinan dan ia tulislah segala perasaannya yang tertekan itu (Lentera Dipantara, 2003).

Seperti Gramsci dalam Prison Notebook, kartini juga meninggalkan catatan-catatan dalam bentuk korespondensi untuk mengungkap perasaannya tersebut.

Dalam korespondensinya dengan Stella Zeehandelaar (1899-1903), Kartini menulis banyak hal tentang kondisi Indonesia kala itu. Salah satu yang paling menonjol dalam korespondensinya tersebut, adalah ulasannya tentang poligami dan kritiknya terhadap kolonialisme.

Meskipun hidup dalam tradisi bangsa Indonesia yang menempatkan perempuan selalu berada di bawah laki-laki, Kartini justru memberontak. Dalam hal poligami misalnya, Kartini secara tegas menolaknya, meskipun ajaran Islam membenarkan hal tersebut. Dalam suratnya kepada Zeehandelaar (6 November 1899), Kartini dengan kritis mengatakan: “Aku tidak akan pernah, tidak akan pernah bisa mencintai. Bagiku, untuk mencintai, pertama kali kita harus bisa menghargai pasangan kita. Dan itu tidak kudapatkan dari seorang pemuda Jawa. Bagaimana aku bisa menghargai seorang laki-laki yang sudah menikah dan sudah menjadi seorang ayah? Yang hanya karena dia sudah bosan dengan isterinya yang lama, dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya? Ini sah menurut hukum Islam. Kalau seperti ini, siapa yang tidak mau melakukannya? Mengapa tidak? Ini bukan kesalahan, tindak kejahatan ataupun skandal; Hukum Islam mengijinkan laki-laki beristeri empat sekaligus. Meski banyak orang mengatakan ini bukan dosa, tetapi aku, selama-lamanya akan tetap menganggap ini sebagai sebuah dosa”.

Begitupula dalam hal kolonialisme, Kartini tetap bersuara kritis. Melihat rakyat yang hidup dalam kemiskinan,  beban pajak yang tinggi, di tambah lagi dengan pengaruh opium yang merusak para generasi muda akibat kolonialisme, Kartini lantas melontarkan kritik pedasnya pada orang-orang kolonial: “..Dan masih juga, sejumlah orang Belanda mengumpati Hindia sebagai ‘ladang kera yang mengerikan. ‘Aku naik pitam jika mendengar orang mengatakan Hindia yang miskin. Orang mudah sekali lupa kalau negeri kera yang miskin ini telah mengisi penuh kantong kosong mereka dengan emas saat mereka pulang ke Patria setelah beberapa lama saja tinggal di sini” (Vissia Ita Yulianto, 2004).

Itu semua adalah contoh tulisan dari seorang subaltern: Kartini yang peduli terhadap nasib rakyat dan perempuan (subordinat). Tulisan itu telah memberikan wujud pedagogis bagi perempuan untuk melawan segala bentuk ketidakadilan dan kekerasan.

One-on-one Epistemic Change

Hari Kartini bukan sekedar untuk di selebrasikan, tapi juga untuk dimaknai dan diktualisasikan. Kartini melalui tulisannya (surat-suratnya) telah memberikan semacam pedagogis yang menyokong banyak pemikiran bagi para kaum subaltern (subordinat).

Melalui tulisan-tulisanya yang bernuansa pedagogis, secara tidak sengaja, Kartini telah menyediakan ruang bagi apa yang disebut oleh Gayatri Spivak sebagai ‘one-on-one epistemic change’. Maksudnya adalah, tulisan-tulisan Kartini secara tidak sengaja, telah melatih para perempuan satu demi satu dengan harapan ketika ada yang memobilisasi mereka, mereka akan lebih bisa dimobilisasi dengan lebih sukses dan lebih kritis. Disitulah letak perubahan yang dimaksud.

Dengan begitu, para perempuan nantinya mampu mengidentifikasi dan mempertanyakan sistem representasi politik dominan (yang umumnya didominasi oleh kaum laki-laki), yang membungkam dan mengeksklusi mereka karena kedudukan kelas mereka.

Sebagai contoh dari bentuk one-on-one epistemic change dapat kita liat dari upaya para aktivis dan organisasi-organisasi perempuan yang menuntut kuota 30 % keterwakilan perempuan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Meskipun belum mencapai sasaran kuota 30 %, tapi upaya tersebut telah berhasil meningkatkan jumlah keterwakilan perempuan di parlemen: Jika pada tahun 2004 anggota DPR hanya berjumlah 61 orang, maka pada pemilu 2009 jumlah anggota DPR-RI perempuan meningkat menjadi 101 orang (18.04 persen) dari 550 anggota DPR. Begitupula pada tingkat DPD, jika pada tahun 2004 anggota DPD hanya berjumlah 26 orang, maka pada pemilu 2009 jumlah anggota DPD perempuan mengalami peningkatan menjadi 34 orang (27,27 persen) dari 132 anggota DPD.

Tapi sayang perubahan ini (one-on-one epistemic change) tidak terjadi pada kasus kekerasan terhadap perempuan. Komisi Nasional Perempuan mencatat, 105.103 perempuan Indonesia telah menjadi korban kekerasan pada tahun 2010. Jumlah itu merupakan akumulasi kasus yang ditangani 384 lembaga penyedia layanan tentang kasus kekerasan di ranah personal, di ranah publik, dan di ranah negara (Tempo, 8 Maret 2011).

Kekerasan itu terjadi disebabkan karena masih minimnya kesadaran pedagogis perempuan awam untuk melawan segala bentuk kekerasan.

Dan ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Yustina Rostiawati, Komisioner Komnas Perempuan, bahwa banyak perempuan korban kekerasan tidak melaporkan kasusnya sehingga jumlah kasus yang ditangani menurun. Penyebabnya antara lain sulitnya korban mendapat dukungan dari orang-orang terdekatnya, rasa malu maupun trauma, dan keterbatasan mengakses layanan yang tersedia (Tempo, 8 Maret 2011).

Untuk itu, ke depannya, kesadaran pedagogis perempuan yang diwariskan oleh Kartini diharapkan dapat menginspirasi atau membangkitkan para perempuan lainnya untuk melawan segala bentuk ketidakadilan dan kekerasan terhadapnya agar kondisi-kondisi tersebut tidak lagi terjadi atau minimal dapat mengurangi dampak ketidakadilan dan kekerasan tersebut terhadap perempuan. Semoga saja.

Asrudin
Analis media sosial di LSI Network

Kamis, 21 April 2011

Pendidikan untuk Pengentasan Kemiskinan

Konsep pendidikan untuk pengentasan kemiskinan mempunyai dua makna. Makna pertama didasarkan pada teori human capital yang menyatakan bahwa di samping modal dan teknologi, manusia juga merupakan salah satu faktor utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Pertumbuhan ekonomi di Jepang dan Korea Selatan merupakan contoh. Kedua negara ini miskin sumber daya alam, tetapi pertumbuhan ekonominya tinggi karena mempunyai sumber daya manusia dengan kompetensi tinggi, terutama di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan. Makna kedua berkaitan dengan kebijakan afirmatif. Kebijakan ini pada prinsipnya menegaskan bahwa pelayanan pendidikan harus bersifat nondiskriminatif. Minat dan bakat menjadi satu-satunya dasar untuk melakukan seleksi (bukan mendiskriminasikan) setiap siswa untuk mendapatkan pelayanan pendidikan. Kebijakan pendidikan, baik di negara berkembang maupun maju, selalu diarahkan pada peningkatan pemerataan dan mutu pelayanan pendidikan.

Kriteria efisiensi dan efektivitas menjadi pertimbangan manajemen ketika ketersediaan sumber dana senantiasa terbatas. Akibatnya alokasi dana untuk menunjang kebijakan pendidikan selalu dihadapkan pada fenomena trade-off. Adanya fenomena trade-off menuntut kejelian pemerintah dalam melakukan prioritas. Penetapan target yang akan dicapai pada periode tertentu tentu saja tidak hanya mempertimbangkan jumlah anggaran yang dapat disediakan pemerintah, tetapi juga karakteristik target pendidikan.

Permasalahan Perenial

Paling tidak terdapat dua permasalahan perenial yang saling berkaitan antara kebijakan peningkatan pemerataan dan mutu pelayanan pendidikan dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber dana. Kedua permasalahan tersebut adalah kemiskinan dan keterisolasian geografis. Kemiskinan menjadi pertimbangan karena berkaitan dengan kemampuan orang tua untuk menyisihkan sebagian penghasilanuntukmenyekolahkan anaknya. Namun, hal ini tidak dapat dijadikan alasan bahwa mereka yang berasal dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomis didiskriminasikan dari pelayanan pendidikan.

Keterisolasian geografis menjadi permasalahan yang sudah ada sejak Indonesia merdeka. Pengabaian terhadap masalah ini mempunyai konsekuensi terhadap efektivitas pencapaian kebijakan pendidikan. Mereka juga warga Indonesia yang mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu. Di samping berkenaan dengan masalah kemiskinan dan keterpencilan geografis, kebijakan pendidikan juga dihadapkan dengan masalah pengangguran.Pendidikan dianggap bertanggung jawab terhadap pengangguran yang terjadi. Satuan pendidikan pada dasarnya tidak bisa menjamin bahwa setiap lulusannya mendapat pekerjaan. Perdebatan tentang peran pendidikan dalam menghantarkan peserta siswa memasuki dunia kerja adalah ready for trainatau ready for use.

Argumentasi yang dikemukakan di sini adalah peran pendidikan mengantarkan siswa untuk ready for trainpada saat lulus. Rekrutmen tenaga kerja selalu didasarkan pada mekanisme queing theory. Mereka yang berada dalam urutan terdepan dalam rekrutmen tenaga kerja adalah mereka yang relatif terampil sehingga memerlukan alokasi sumber daya paling minimum untuk pelatihan lebih lanjut. Sulit bagi kebijakan pendidikan untuk secara langsung mengikuti perkembangan kebutuhan dunia kerja yang bergerak lebih cepat daripada dunia pendidikan.

Intervensi Kebijakan

Bagaimana pendidikan dapat mengentaskan kemiskinan tentu sesuai kebijakan pendidikan yang diarahkan. Pemberian beasiswa bagi siswa miskin merupakan intervensi kebijakan pendidikan yang bersifat afirmatif. Pada acara Bukan Empat Matapada Maret 2011 ditampilkan seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Dia adalah anak dari seorang tukang cendol yang tentu saja tidak akan mampu untuk membiayai anaknya masuk Fakultas Kedokteran.

Dengan program Beasiswa Pendidikan bagi calon Mahasiswa Berprestasi dari Keluarga Kurang Mampu (Bidik Misi), terbuka kesempatan baginya untuk mewujudkan cita-citanya menjadi dokter. Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdapat program serupa seperti beasiswa miskin dan beasiswa berprestasi. Program-program seperti itu telah berhasil menghantarkan siswa untuk menyelesaikan pendidikannya pada jenjang menengah. Selanjutnya apabila diterima di perguruan tinggi, program Bidik Misi akan menyambutnya. Program untuk mendukung kebijakan afirmatif yang lainnya adalah menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang dapat memfasilitasi kegiatan belajar mengajar siswa dari keluarga kurang mampu secara ekonomis dan dari daerah terpencil.

Bentuknya tidak harus berupa bangunan, tetapi juga sarana transportasi yang dapat menjamin mobilitas mereka,serta penyediaan sumber belajar yang bisa dibawa pulang. Meskipun pendidikan tidak secara langsung dapat mengatasi pengangguran, kebijakan pendidikan tidak bisa lepas tangan dengan adanya pengangguran. Apa yang bisa dilakukan kebijakan pendidikan adalah membenahi kurikulum agar dapat selalu mengantisipasi kebutuhan dunia kerja. Bersamaan dengan hal itu, kompetensi guru ditingkatkan dan sarana pendidikan di tingkat satuan pendidikan diperhatikan.

Sistem Pendidikan Nasional menyediakan jalur pendidikan nonformal dan sekolah menengah kejuruan yang secara khusus mempersiapkan para lulusannya untuk tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, tetapi untuk langsung masuk pada dunia kerja. Pada jalur dan sekolah menengah kejuruan ini orientasi pendidikan secara lebih khusus diarahkan untuk mempersiapkan lulusannya masuk dunia kerja. Kerja sama dengan dunia usaha menjadi suatu keharusan. Kerja sama ini bersifat saling menguntungkan. Sekolah akan lebih terarah dalam mempersiapkan program pengajarannya untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja.

Di lain pihak, dunia usaha dapat menekan alokasi sumber dana untuk pelatihan dalam rangka orientasi kerja pada perusahaannya. Pada tingkat makro, pertumbuhan ekonomi perlu untuk dipelihara.Hanya dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil pasar kerja dapat menyediakan tempat kepada para lulusan yang terampil dan kompetitif.

BAMBANG INDRIYANTO
Staf Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan Nasional

Rabu, 13 April 2011

Pojok BEI, Ajang Mahasiswa Kenal Bursa


PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mendirikan Pojok Bursa Efek Indonesia untuk memperkenalkan dunia pasar modal Indonesia kepada para mahasiswa.

"Pojok BEI berguna selain untuk memperkenalkan pasar modal Indonesia, juga mempersiapkan mereka untuk dapat berkecimpung di dunia pasar modal Indonesia. Karena, kita masih sangat membutuhkan sumber daya manusia guna mengembangkan dunia pasar modal Indonesia," kata Direktur Utama BEI Ito Warsito kala ditemui dalam acara Official Launch OSK Investment Challenge Indonesia (campus edition), di Hotel Kempinsky, Jakarta, Selasa (12/4/2011).

Lebih lanjut Ito menjelaskan, saat ini BEI sudah memiliki 14 pusat informasi yang tersebar di empat lokasi di luar Jakarta, dan 10 lokasi di luar Jawa.

"Kami berharap, dengan adanya pusat informasi ini orang-orang yang tadinya memiliki deposito di perbankan, menjadi beralih untuk berkecimpung di dunia pasar modal Indonesia," ujar Ito mengimbuhkan.

Rencananya, BEI juga akan membuka pusat informasi tersebut di wilayah Timur Indonesia, yakni Sulawesi dan Bali, serta menjajaki pembukaan pusat serupa di wilayah Nusa Tenggara dan Sumatra.

Universitas Elit Dunia Berlomba-lomba Masuk Amerika


WARWICK University berambisi menjadi universitas Inggris pertama yang mendirikan kampus di Amerika Serikat. Namun agar bisa mewujudkan hal ini, Warwick University harus bersaing dengan universitas terkemuka dari Amerika Serikat, Eropa dan Asia.


Pembukaan ini berdasarkan penawaran yang diberikan Kota New York kepada 17 universitas elit di dunia. Warwick akan bersaing dengan Stanford University, yang berlokasi di pusat teknologi informasi di Silicon Valley, California.
 
Universitas tangguh lainnya yang akan bersaing dengan Warwick adalah Carnegie Mellon, Cornell, Columbia, New York University dan Chicago. Ada juga universitas dari Finlandia, Swiss, India, Korea Selatan dan Israel. Mereka bersaing agar bisa mendirikan kampus ilmu pengetahuan dan penelitian di kota dengan julukan Big Apple tersebut.
 
Wali Kota New York Michael Bloomberg menyatakan, kampus ini akan menjadi alat perubahan untuk perekonomian kota. New York mengajukan permintaan bahwa kampus tersebut harus melakukan penelitian dasar untuk memperkuat industri teknologi.
 

Saat ini, pejabat Kota New York khawatir kondisi ekonomi kota itu terlalu tergantung pada perbankan dan lembaga keuangan. Dengan adanya kampus yang melakukan penelitian, diharapkan bisa membantu kota untuk melakukan diversifikasi ke industri digital teknologi tinggi. Seperti dikutip dari BBC, Rabu (13/4/2011).
 
New York juga berkaca pada bisnis online seperti Google dan Facebook yang tumbuh dari lingkungan kampus. Karena itu, New York ingin mengubah kotanya menjadi “pusat teknologi” yang menghasilkan industri.


“Banyak perusahaan teknologi terkemuka di dunia tumbuh dari program ilmu terapan, dan kami ingin generasi baru dari perusahaan dan pekerjaan seperti itu dimulai dari New York,” kata Wakil Walikota New York Robert Steel.


New York City Economic Development Corporation, yang menjalankan proyek ini, telah mengidentifikasi sejumlah lokasi untuk menjadi tempat mendirikan kampus. Diharapkan, kampus yang terpilih menjadi pemenang bisa diumumkan pada akhir tahun.
 
Dan jika Warwick berhasil menjadi pemenang penawaran ini, fenomena globalisasi pendidikan tinggi akan terpatahkan. Selama ini, globalisasi dalam pendidikan tinggi berarti universitas AS melakukan ekspor universitas ke negara lain.

Mahasiswa Itu Berkompetisi Bak Brand Manager L'Oreal


Layaknya tim pemasaran profesional, tiga mahasiswa berpenampilan necis itu mempresentasikan rencana bisnis atas paket perawatan terbaru L'Oreal.

Dengan kepercayaan diri tinggi, empat tim beranggotakan tiga orang bergantian memaparkan strategi pemasaran mereka di depan jajaran komisaris perusahaan kosmetik terkemuka dari Prancis itu. Mereka adalah tim Beast dari Prasetya Mulya Business School, tim Bhadra dari Universitas Indonesia, serta tim Ganesha dan Velvet dari School of Business Management Institut Teknologi Bandung (ITB).

Presiden Direktur PT L'Oreal Indonesia Jean-Christophe Letellier menyatakan, kompetisi L'Oreal Brandstorm ini menantang para mahasiswa untuk menyusun strategi dan rencana pemasaran yang original, merancang kampanye komunikasi yang unik, serta mendesain produk baru dari brand L'Oreal.

"Kompetisi ini menjadi ajang latihan terbaik bagi para mahasiswa untuk menjalankan peran sebagai brand manager sebuah brand internasional. Mereka bisa mempraktikkan pelajaran yang didapatkan di kampus sambil membuka jaringan perkenalan," kata Letellier kepada okezone, di Koi Gallery and Resto, Kemang, Jakarta, Rabu (13/4/2011).

Tahun ini, kompetisi yang dihelat sejak 1993 ini dimenangi oleh tim Ganesha dari School of Management ITB. Posisi kedua ditempati oleh tim Beast dari Prasetiya Mulya Business School.

Letellier menjelaskan, Ganesha unggul dari tim lainnya karena mereka adalah tim yang menyajikan strategi pemasaran lebih komplit dalam berbagai kriteria.

"Mereka mengembangkan konsep yang lebih  luas dan dapat diaplikasikan secara global. Sementara, ada konsep tim lain yang terlalu spesifik," ujar Lettellier menambahkan.

Tim Ganesha berhak mewakili Indonesia dalam final L'Oreal Brandstorm tingkat dunia di Paris, Prancis, 15-16 Juni mendatang. 

Juara pertama dalam final ini berhak atas hadiah perjalanan senilai  10 ribu untuk tujuan ke mana pun di seluruh dunia. Juara kedua akan mendapatkan hadiah perjalanan senilai  5.000, dan juara ketiga berhak atas hadiah perjalanan senilai  2.000.

"Saran saya, tim Ganesha harus menajamkan dan menguatkan lagi presentasi mereka agar konsep yang mereka usung mampu menarik perhatian juri tingkat dunia," ujar Lettelier menandaskan.

Dosen Sewa Penari Bugil Demi Pemahaman Mahasiswa

 

Seorang profesor di Amerika Serikat membuat sensasi lantaran menyewa striptis dalam kelasnya. Profesor bernama Jack Rappoport dari La Salle University, Philadelphia ini berniat mengilustrasikan bagaimana Platonic (tipe cinta tanpa ketertarikan fisik atau hubungan seksual) dan etika Hegel (Hegelian) bisa diterapkan dalam bisnis.

Di harian Philadelphia City Paper, para mahasiswa menjelaskan yang terjadi dalam kelas ini. Kegiatan ini merupakan simposium di mana Rappoport merupakan pengajarnya.

Dengan biaya pendaftaran sebesar USD150 atau setara Rp1,2 juta (Rp8647.5 per USD), mahasiswa akan memperoleh kredit (SKS) di College of Professional and Continuing Studies serta SKS tambahan untuk kelas School of Business sang profesor.

Tujuan dari simposium ini adalah menerapkan Platonis dan etika Hegel dalam bisnis. Sebagai bagian dari kuliah, ada tiga penari yang disewa sang profesor. Mereka mengenakan bikini dan atau rok mini serta sepatu hak tinggi. Para penari ini sudah ada sebelum 30 mahasiswa (dua di antaranya adalah perempuan) masuk kelas.

Selama kelas berlangsung, para penari melakukan tarian pangkuan, yang biasa mereka lakukan saat bekerja, kepada mahasiswa yang bersedia dan juga kepada Rappaport.

 

Namun saat kelas berlangsung selama 45 menit, Dekan School of Business Paul Brazina masuk. Atas insiden ini, pihak universitas menyatakan akan melakukan investigasi penuh dan Rappaport pun diskors. Seperti dikutip dari Huffingtonpost, Rabu (13/4/2011).

Rappoport memiliki catatan pernah mencampurkan kepentingan di luar pelajaran dengan kegiatan akademis. Pada situs RateMyProfessors.com, seorang mahasiswa menulis pada 2004, Rappoport merupakan pengajar yang mudah memberikan nilai A. “Pria yang sangat aneh. Penggila judi, balap kuda dan strip. Kerap berbicara tentang hal-hal tadi sepanjang waktu.”

Presiden Universitas Kaist Minta Maaf


Pada sebuah konferensi pers setelah kematian mahasiswanya, Presiden Universitas Kaist Nam Pyo Suh menyatakan penyesalan dan berencana mengubah kebijakan biaya kuliah di kampusnya.

"Semua pejabat Kaist, termasuk saya, merasa sedih dan kepahitan yang tak terlukiskan. Kami menundukkan kepala dan meminta maaf kepada semuanya, orangtua dan mahasiswa," kata Suh seperti dikutip dari situs Joongangdaily, Rabu (13/4/2011).

Suh berencana menghapus kebijakan beasiswa berdasarkan nilai. Mulai semester berikutnya, kampusnya akan memberikan semua mahasiswa biaya pendidikan sepenuhnya selama empat tahun.

Meski tidak ada data pasti keterkaitan bunuh diri dengan biaya kuliah, Presiden Dewan Mahasiswa Kaist Gwak Yeong-chul meyakini ini saling terkait.

“Meskipun empat mahasiswa memiliki alasan sendiri untuk menghentikan hidup mereka, saya pikir persaingan yang ketat di kampus mempengaruhi. Karena kebijakan persaingan yang memprovokasi, seperti beasiswa berdasarkan nilai serta kuliah wajib dalam bahasa Inggris, mahasiswa tidak mau bergaul dan berpartisipasi dalam masyarakat,” jelasnya.

Beberapa profesor dari Seoul National University, universitas elit lainnya di Korea mengecam keras Suh. Menurut mereka, Suh memiliki ide yang kekanak-kanakan dan terlalu sederhana, bahwa jika siswa dibebani oleh beasiswa berdasarkan nilai, mereka akan konsentrasi untuk belajar. Ini adalah sebuah konsep pendidikan yang fokus pada persaingan yang salah.

Sabtu, 09 April 2011

Presiden Turki Raih Gelar Doktor Honoris Causa dari UI


Presiden Turki Abdullah Gul menerima gelar doktor honoris causa dalam bidang Ilmu Politik dari Universitas Indonesia (UI). Penganugerahan doktor kehormatan tersebut diberikan langsung oleh Rektor UI Gumilar Rosliwa Soemantri.

Acara yang dihelat di kampus UI, Rabu (6/4/2011) ini, disaksikan oleh Menteri Pendidikan Nasional M Nuh.

Rektor menyatakan, gelar doktor kehormatan ini diberikan UI kepada Presiden Turki Abdullah Gul atas kiprahnya dalam bidang politik dan demokrasi. "Presiden Abdullah adalah politikus berpengaruh dan penting baik di Turki maupun dunia. Kiprahnya telah dimulai sejak dia menjadi anggota partai politik dan parlemen Turki, serta berlanjut hingga dia menjadi presiden Turki Agustus 2007 silam," kata Rektor di Balai Sidang UI, Rabu (6/4/2011).

Mendiknas M Nuh menyatakan, pemberian gelar doktor honoris causa tersebut memberi makna bahwa hubungan Indonesia dengan Turki sangat baik. Salah satu kontribusi Turki dalam kerja sama pendidikan dengan Indonesia ditunjukkan dengan mendirikan sekolah-sekolah di berbagai daerah di Indonesia.

"Kerja sama tersbeut menunjukkan, pendidikan bisa dijadikan sebagai sarana diplomasi budaya antara masyarakat Turki dan Indonesia," ujar Mendiknas.

Presiden Turki Abdullah Gul merupakan lulusan Universitas Istanbul dalam bidang ekonomi. Kebijakan pemerintahannya menekankan pada pengembangan demokrasi dan kebebasan bergama.

Dalam resepsi penganugerahan gelar doktor honoris causa tersebut, Abdullah menyampaikan orasi ilmiah tentang demokrasi dan perkembangan politik di negara-negara Timur Tengah. Acara ini juga diwarnai dengan penggalangan dana secara tertutup yang hasilnya kemudian akan disalurkan sebagai beasiswa bagi para siswa sekolah Turki di Aceh. Kegiatan penggalangan dana tersebut berhasil mengumpulkan sekira USD300 ribu.

Gay & Lesbi Akan Menjadi Mata Pelajaran?


Negara bagian California di Amerika Serikat sedang mempertimbangkan membuat pelajaran baru yang memelajari ‘peran dan kontribusi dari kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender di Amerika’. Ini berdasarkan gagasan dari Senator San Francisco Mark D Leno yang mengusulkan revisi buku pelajaran ilmu sosial termasuk studi tentang peran dan kontribusi kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender Amerika.

Anggota DPRD dari Partai Demokrat ini menghidupkan kembali rencana agar sekolah mengajarkan kontribusi dari kaum minoritas. Mereka menyalakan kembali gerakan yang terhenti selama lima tahun. Setelah Gubernur Arnold Schwarzenegger dari Partai Republik berhenti, para pembuat UU dan aktivis gay mendapatkan peluang akan hal ini.

Gubernur California Jerry Brown tidak mengambil sikap akan usulan tersebut. Namun dorongannya membuat para pemimpin agama, pendidik, anggota dewan, dan pihak yang menentang, menuduh orang-orang yang memperjuangkan hal ini memaksakan nilai pada negara bagian, siswa, serta orang tua yang keberatan akan hubungan sesama jenis.

Proposal RUU ini berbunyi, “Studi tentang peran dan kontribusi kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender Amerika untuk pembangunan ekonomi, politik, dan sosial dari California dan Amerika Serikat, dengan penekanan khusus pada penggambaran peran kelompok ini dalam masyarakat kontemporer," demikian seperti dikutip dari situs LA Times, Sabtu (9/4/2011).  

Setiap sekolah nantinya akan menentukan kelompok umur mana saja yang belajar ini. Senator Leno menyatakan, usulan tersebut bertujuan mendidik kalangan muda yang mengganggu kaum gay. Dalam sebuah rapat di dewan legislatif baru-baru ini, Leno menyebut nama Seth Walsh, siswa berusia 13 tahun dari Tehachapi yang bunuh diri setelah di-bully oleh teman-temannya yang anti-gay di sekolah, tahun lalu.

Beberapa siswa SMA yang menyukai sesama jenis menyambut baik upaya Leno. Ini akan menunjukkan bahwa kaum non-heteroseksual memberikan kontribusi secara signifikan untuk AS.

Sementara itu, anggota dewan dari Republik dengan tegas menentang usulan ini. Senator Bob Huff menyatakan dalam sebuah pertemuan komite pendidikan, hal ini akan melatih anak-anak dalam usia dini mengenai sensualitas.  California Curch Impact juga menentang hal ini. Anggota dewan telah dibanjiri surat dari kelompok yang menentang termasuk California Catholic Conference, the First Southern Baptist Church, dan Thousand Oaks Christian Fellowship.

“Ini semua tidak masuk akal. Pada saat negara kekurangan uang untuk membayar kebutuhan di bidang pendidikan, seharusnya DPRD mempertimbangkan penambahan beban keuangan pada sekolah untuk membayar buku pelajaran baru yang akan mengajarkan sejarah gay,” tulis pemimpin agama dari Thousand Oaks Arland Steen.

Meskipun beberapa guru telah menentang, usulan ini didukung oleh California Teachers Association dan Los Angeles Unified School District. Jika jadi diterapkan, merevisi buku pelajaran ilmu sosial akan berdampak bagi kawasan di luar California. Negara bagian ini merupakan pembeli utama buku teks pendidikan dan penerbit seringkali memproduksi buku yang disesuaikan dengan California dan otomatis digunakan negara bagian lainnya.

Penyakit Lupus Masuk Kampus


Masyarakat masih awam akan penyakit lupus, tak terkecuali civitas academica di kampus. Untuk itu lembaga peduli lupus Syamsi Dhuha Foundation (SDF) menggelar program Lupus Goes to Campus di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Manajer SDF dr Shiane H Achmad menjelaskan, lewat Lupus Goes to Campus diharapkan makin banyak kampus dan sekolah peduli terhadap penyebaran penyakit lupus dan orang yang hidup dengan lupus (Odapus).

Lupus Goes to Campus sudah digelar sejak 2004 dengan program utama edukasi dan sosialisasi tentang penyakit lupus. "Sekarang mulai banyak kampus atau sekolah yang peduli lupus. Saya harap, lupus makin dikenal masyarakat luas. Karena jangankan masyarakat awam, dokter pun kadang suka salah mendiagnosa penyakit lupus," ujar Shiane usai kegiatan di ITB, kemarin.

Bahkan, lanjutnya, sebagian masyarakat menganggap penyakit lupus sebagai penyakit guna-guna. Tidak heran jika penyakit ini jumlahnya meningkat. Shiane menyebutkan, diperkirakan penderita lupus di Indonesia mencapai 500 ribu orang dari berbagai kalangan dan usia, mulai bayi hingga manula. Bahkan dalam Literatur Dubois Lupus Erythematosus disebutkan, angka kejadian lupus meningkat tiga kali lipat pada periode 1980-1990. Saat ini di dunia terdapat tujuh juta Odhapus.

"Paparan sinar ultra violet yang semakin meningkat akibat pemanasan global juga meningkatkan serangan lupus," ujarnya menerangkan.

Dia menjelaskan, hingga kini penyakit yang juga disebut seribu wajah ini belum ada obatnya. Meski tak menular, lupus membuat produktivitas penderitanya sangat terganggu. Sebenarnya, kata Shiane, lupus bisa dideteksi secara sederhana, yakni dengan metode saluri (periksa lupus sendiri). Di antaranya kulit hipersensitif terhadap matahari, terdapat protein pada pemeriksaan urine, pada wajah akan terdapat ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu yang sayapnya melintang dari pipi ke pipi, dan sariawan lebih dari dua minggu.

"Jika menemukan gejala tersebut, segera lakukan konsultasi dengan ahli penyakit dalam yang juga pemerhati lupus," sarannya.

Selain menggelar Lupus Goes to Campus, SDF juga akan menggelar program Lupus Saves the Earth di Kampus Universitas Padjdjaran (Unpad) 9 April 2011. Progran sosialisasi dan edukasi lupus ini kerja sama SDF dan BEM Unpad yang akan diawali dengan penanaman 100 bibit pohon.

Hari Nelayan, Budayakan Gemar Makan Ikan!

Bukan lautan hanya kolam susu.
Kail dan jala cukup menghidupimu.
Tiada badai tiada topan kau temui.
Ikan dan udang menghampiri dirimu.

Lagu Koes Plus yang cukup tenar tersebut mengingatkan pada kehidupan orang-orang yang mata pencahariannya menangkap atau sering disebut dengan nelayan. Mungkin sedikit orang yang mengetahui jika 6 April diperingati sebagai Hari Nelayan. Hari Nelayan ini barangkali menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk sekedar berempati dengan nasib para nelayan yang hingga saat ini masih termarginalkan

Di negara yang lautannya tiga kali lebih luas dari daratannya, seharusnya nelayan Indonesia hidup sejahtera. Belum lagi kekayaan berupa ikan atau hasil laut lainnya yang berada di lautan Indonesia sangat besar. Pantaslah jika kemudian Koes Plus menyebutnya kolam susu.

Ironisnya, nelayan di negara kita masih banyak yang tergolong miskin. Departemen Perikanan mencatat, beberapa faktor penyebab kemiskinan nelayan yaitu rendahnya teknologi penangkapan, kecilnya skala usaha, belum efisiensinya sistem pemasaran hasil ikan, dan status nelayan yang sebagian besar adalah buruh.

Jika nelayan kita dibandingkan dengan nelayan di negara maju seperti Jepang sepertinya masih kalah jauh. Meski laut mereka tidak seluas laut Indonesia, mereka bisa maju karena ada dukungan yang optimal dari pemerintah. Teknologi penangkapan yang dipergunakan cukup canggih, dan satu lagi, masyarakat Jepang memiliki kegemaran makan ikan.

Membantu kesejahteraan nelayan Indonesia bukanlah hal yang sulit. Salah satu cara mudah yang bisa dlakukan masyarakat untuk menaikkan taraf hidup nelayan adalah dengan gemar makan ikan. Protein yang terkandung pada ikan lebih tinggi daripada yang tekandung pada daging ayam, sapi, dah hewan darat lainnya. Kandungan omega 3, 6, dan 9 pada ikan meningkatkan tumbuh kembang bayi, balita lebih aktif dan cerdas serta membuat daya tahan tubuh lebih kuat.

Konsumsi ikan nasional di akhir tahun 2010 mencapai 30,47 kg per kapita per tahun, meningkat dibandingkan pada 2009 yang 29,08 kg per kapita per tahun. Sedangkan standar FAO adalah 30 kg per kapita per tahun. Namun jika dibandingkan dengan negara maju lainnya kita masih jauh tertinggal. Sebagai contoh, konsumsi ikan di Jepang 110 kg per kapita per tahun, Korea Selatan 85 kg per kapita per tahun, dan Malaysia 45 kg per kapita per tahun.

Semakin tinggi tingkat konsumsi ikan tentunya akan semakin tinggi pula produktivitas ikan sehingga akan memacu nelayan untuk menaikkan nilai produktivitasnya. Cukup ironis memang masyarakat kita lebih suka makan daging darat dibanding ikan. Namun usaha untuk mengampanyekan budaya makan ikan setidaknya bisa mulai mengubah pola makan masyarakat kita.

Mari kita galakkan “Germani”, Gerakan Makan Ikan, untuk kesehatan dan kecerdasan bangsa dan tentunya untuk membantu nelayan kita.

Ridwan Kharis

Mahasiswa Teknik Mesin UGM
Pegiat Forum Lingkar Pena Yogyakarta
Peserta PPSDMS Nurul Fikri

Punya Sekolah karena Nyumbang Ribuan Buku


Seorang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Amerika Serikat (AS), Casey Robbins, punya sekolah atas namanya di Liberia, Afrika Barat. Sekolah tersebut dinamai dengan namanya sebagai penghargaan pemerintah Liberia atas aksi Casey menyumbangkan puluhan ribu buku ke salah satu negara di benua hitam itu.

Siswa di SMA Mira Loma, Sacramento, California, AS, ini mulai melakukan aksi sosialnya sejak kelas delapan (2 SMP). Di usia belia, dia mulai mengumpulkan buku teks untuk dikirimkan ke Liberia. Aksinya bermula saat mendengar program radio yang mewawancarai Menteri Informasi Liberia yang membahas usaha negara ini bangkit dari kelumpuhan akibat perang saudara selama 14 tahun.

Robbins mendengar banyak orang usia dewasa yang buta huruf, dan selama lebih dari satu dekade, anak-anak tidak bisa sekolah. Setelah mendapatkan alamat surat elektronik sang menteri, Robbins mulai berkomunikasi. Atas simpatinya, dia pun memulai proyek yang diberi nama Text Books for Liberia.

"Saya melihat ada beberapa buku teks yang tergeletak di ruang staf sekolah. Kemudian saya bertanya kepada wakil kepala sekolah apakah bisa memilikinya. Dan dia menjawab, boleh saja asalkan saya tahu bagaimana cara mengirimkannya," kata Robbins seperti dikutip dari situs The Huffingtonpost, Jumat (8/4/2011).

Setiap tahun selama lima tahun terakhir, Text Books for Liberia mengirimkan satu kontainer berisikan perlengkapan sekolah untuk Liberia. Proyek ini telah menyumbangkan 14 ribu buku teks pelajaran.

Beberapa waktu lalu, Robbins mengunjungi Liberia. Di sana, dia disambut Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf. Sang presiden menerimanya di rumah eksekutif dan mengucapkan terima kasih atas kontribusinya. Robbins juga mengunjungi sekolah dengan namanya, yang dijadwalkan dibuka pada musim gugur mendatang atau sekira bulan September.

"Casey Robbins International School merupakan hal yang menarik bagi saya. Saya harus punya foto dengan tanda tangan untuk sekolah saya," ujar Robbins.

Robbins akan lulus tahun ini. Rencananya, dia akan kuliah di Universitas Stanford pada musim gugur. Meski kuliah, dia berencana melanjutkan proyeknya dan berharap dapat memperluas proyeknya ke sekolah dan negara lain.

Intip Ilmu Humas dari PR IBM Amerika


Staf humas Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas Surabaya dan kampus-kampus di sekitarnya ketiban rejeki. Mereka mendapat kesempatan berguru langsung kepada staf Public Relations IBM Amerika, Nicole Fortenberry.

Dalam sebuah workshop yang dihelat oleh STIE Surabaya baru-baru ini, sekira 40 orang Perwakilan Humas dari Perguruan Tinggi Swasta/Negeri dan Humas Organisasi Mahasiswa STIE Perbanas Surabaya terlihat antusias mengikuti berbagai pelatihan yang diberikan Nicole. Mereka juga aktif terlibat berinteraksi dalam sesi tanya jawab dengan orang yang bertanggung jawab atas citra perusahaan komputer terkemuka dunia itu.  

Perwakilan dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (HMJM) STIE Perbanas Surabaya Afif Robitul Azmi mengaku sangat terbantu dengan workshop tersebut. “Workshop  ini sangat berguna bagi organisasi dan diri kami sendiri.  Kami jadi lebih mengetahui dunia public relations di luar negeri,”  kata Afif seperti dikutip dari keterangan tertulis STIE Perbanas, Jumat (8/4/2011).

Bagi sebuah institusi, peran public relations officer (PRO) atau staf hubungan masyarakat (humas) sangat vital. Ia menjembatani kebutuhan perusahaan dan masyarakat serta media massa dalam berbagai akses informasi. Di saat yang sama, humas juga berkewajiban menjaga serta meningkatkan citra institusinya di mata publik.

Kamis, 31 Maret 2011

Mobil Sapu Angin ITS Siap Berlaga di SEM Asia

Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) meluncurkan tiga mobil super hemat energi yang diberi nama Sapu Angin.

Diluncurkannya kendaraan sapu angin 1, 2 dan 3 ini adalah untuk menghadapi ajang kompetinsi kendaraan hemat energi Shell Eco-Marathon (SEM) Asin 2011 pada 6-9 Juli mendatang di sirkuit Sepang, Kuala Lumpur, Malaysia.

“Kami bersyukur tim ITS mampu mengukir prestasi yang membanggakan di SEM Asia tahun lalu. Melihat hasil yang diperoleh, kita boleh berbangga bahwa sumber daya anak bangsa Indonesia tidak kalah maju dengan bangsa-bangsa lainnya. Kami berharap, tiga tim ITS yang akan ke SEM Asia 2011 bisa membawa pulang kemenangannya lagi,” kata Pembantu Rektor III Suasmoro, di Graha ITS, Rabu 30 Maret kemarin.

Sementara Ketua Jurusan Teknik Mesin, Herman Sasongko mengaku optimistis tim ITS bakal menyabet gelar serupa seperti tahun lalu.

Alasannya, ada beberapa perbaikan dan penyempurnaan dari mobil Sapu Angin yang mengikuti kejuaraan tahun lalu. Dia menjelaskan, pada SEM 2010 lalu, tim ITS berhasil menyabet dua penghargaan bergengsi lewat Sapu Angin 2, yakni gelar juara umum (grand prize) pada kategori kendaraan berbahan bakar bensin (Gasoline Fuel Award) dan juara pertama untuk kelas urban berbahan bakar bensin dengan mesin internal combustion yang mampu menempuh 238 km dengan satu liter bensin.

Pencapaian 238km/liter ini mengalahkan rekor SEM Amerika di kategori yang sama oleh tim Mater Dei, Canada dengan perolehan 184 km untuk 1 liter bensin. Dengan prestasi ini, tim Mesin ITS merasa mantap terhadap prestasi Sapu Angin 1, 2 dan 3 akan mampu menempuh jarak ratusan kilometer dengan 1 liter bahan bakar.

Bila tahun lalu SEM Asia diikuti 81 tim dari 10 negara, tahun ini SEM diikuti 121 tim dari 14 negara. Yaitu tim dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Hongkong, Vietnam, Taiwan, Iran dan Pakistan, Jepang, Cina dan India. 

Tim ITS mengikuti kedua kategori, yaitu prototype yang berbahan bakar bensin, dengan mobil Sapu Angin 1. Sedangkan Sapu Angin 2 yang berbahan bakar diesel dan Sapu Angin 3 yang berbahan bakar bensin. Untuk Sapu Angin 1, dengan 1 liter bensin mampu menempuh jarak sampai 1500 km, Sapu Angin 2, dengan 1 liter solar mampu menempuh 300 km, sementara Sapu Angin 3 dengan 1 liter solar mampu menempuh 300 km.

Sekolah Bambu Besutan Bule Kanada di Bali

Sekolah yang keseluruhannya dibuat dari bambu ini menjadikannya bangunan bambu terbesar di Asia. Rujukannya bahkan ada di Google Earth.Dengan menggunakan bahan ramah lingkungan, sekolah ini bertekad menjadi sekolah berkarbon terendah di bumi.

Pintu masuk sekolah yang berupa jembatan bambu membuat anak-anak bisa bermain di sungai di bawahnya. Jalan setapak di lingkungan sekolah dikelilingi batu vulkanik. Ruang kelasnya terbuka, melalui taman yang dipenuhi pohon nanas dan tanaman padi yang tumbuh subur.

Di pusat sekolah adalah area utama yang bernama “Heart of School”. Ini adalah katedral dari segala yang hijau. Bangunan ini didirikan dalam bentuk heliks ganda, berbentuk spiral tiga lantai. Sebuah gitar digantung di pusat bangunan sehingga anak-anak bisa memainkan sekolah mereka sendiri seperti instrumen.

Green School mengajarkan siswanya menanamkan nilai-nilai kehijauan. Pendiri sekolah, John Hardy tertarik mendirikan sekolah ramah lingkungan setelah menyaksikan film dokumenter tentang pemanasan global besutan Al Gore yang berjudul An Inconvenient Truth. Menurutnya, film itu "menghancurkan hidupku”.

“Jika kita meyakini (pemanasan global) hanya sebagian kecil dari cara untuk kehancuran planet, setiap orang harus menggunakan pendekatan lebih bertanggung jawab. Dan pendidikan merupakan titik awal untuk mengatasi ini,” ujar John seperti dikutip dari The Telegraph, Senin (28/3/2011).

John yang menjalankan sekolah ini bersama istrinya, Cynthia, membangun Green School dengan uang sendiri. Tahun ini, mereka akan melepaskan ketergantungan pada jaringan listrik dan menggantinya dengan sinar matahari serta sistem pusaran air dari sungai yang mengalir. Menu makan malam sekolah menggunakan bahan organik, yang ditanam di lingkungan sekolah dan dibungkus dengan daun pisang.

“Belajar hijau” merupakan inti utama dari kurikulum. Mata pelajaran utama, Bahasa Inggris, Matematika, Ilmu pengetahuan, dan Drama, diresapi dengan pendidikan keberlanjutan. Para siswa belajar matematika dan sains dengan bambu, untuk mengukur proporsi dan rencana konstruksi dalam membangun bambu. Mereka juga menulis dan melakukan permainan mencari kehidupan spesies yang terancam punah.

Green School berharap para siswanya mengembangkan ikatan pribadi dengan alam, sehingga siswa akan menghormati alam sepanjang hidup mereka. Para siswa menanam sayuran di “kebun pizza” (lengkap dengan oven pizza luar ruangan). Mereka juga terlibat pelestarian satwa yang terancam punah di tempat penangkaran yang dipenuhi burung jalak Bali (Leucopsar rothschildi) dan rangkong tunggal yang masih menunggu pasangan untuk dinikahkan.

Sementara yang lainnya bekerja dengan Coral Watch untuk memantau pelestarian terumbu karang dunia. Guru di sekolah ini termasuk aktivis gerakan lingkungan. Bulan lalu, seorang anggota suku Kamoro dari Papua Nugini mengajarkan siswa mengukir instrumen dari bambu.

Tahun ini, Green School berusia tiga tahun. John telah menjangkau donor dari filantropi utama. Ada lebih dari 200 siswa dari 28 negara, termasuk Swedia, Lithuania dan Singapura. Untuk menjadi murid Green School, seorang siswa harus membayar biaya sekolah 4.558 poundsterling (Rp63 juta lebih) untuk jenjang taman kanak-kanak (TK), sementara siswa sekolah menengah dikenakan biaya 5.693 poundsterling (Rp79 juta lebih). Untuk warga Bali, akan mendapatkan 20 persen sokongan dana dari donatur Sir Richard Branson, Donna Karan, serta Ben&Jerry's yang juga mengajar cara membuat es krim.

Meski mengusung misi ‘hijau’, sekolah ini dikritik karena membuat Taman Eden mini tapi tidak menyiapkan anak-anak dalam ‘dunia nyata’. Namun John punya jawaban atas kritik ini. Menurutnya, Green School merupakan mikrokosmos dunia global. "Ketika saya melihat mereka bersama, saya tahu mereka belajar bekerja sama bagaimana hidup di masa depan," ujarnya.

Juli lalu, John menawarkan ide Green School kepada orang-orang yang ingin membangun sekolah dengan konsep sama. Dia meyakini, ide ini bisa diterapkan di mana pun. Model ini bersifat lokal, membiarkan lingkungan menjadi pemimpin dan mencoba berpikir bagaimana (dan dengan apa) keturunan kita akan membangun.

Banyak Remaja Hamil, Siswa Tuntut Pendidikan Seks

Sekelompok siswa di Boston, Amerika Serikat membuat film dokumenter agar diberikan pendidikan mengenai seks. Ini dilakukan agar pejabat dinas pendidikan setempat memenuhi permintaan mereka. Dalam film tersebut digambarkan bagaimana rekan-rekan mereka mendapatkan informasi tentang seks, yaitu lewat pornografi.
 
Siswa dari kawasan Jamaica Plain di Boston ini mendesak agar diajarkan seks oleh para profesional. Selama ini, angka kehamilan remaja dan penyakit Chlamydia (salah satu penyakit menular seksual) di Jamaica Plain termasuk tinggi.
 
Dalam film dokumenter mereka menyatakan, “Saya berjuang untuk pendidikan sebagai bagian dari hak untuk kesehatan. Seperti dikutip Huffingtonpost dari CNN, Kamis (31/3/2011).
 
Siswa SMU ini mendatangi Anggota Dewan Kota Boston Ayanna Pressley, yang menyerukan adanya pertemuan resmi. Ayanna menyatakan, kemungkinan tenaga pengajar yang ada harus dilatih agar bisa memberikan pendidikan seks. Pasalnya, baru-baru ini Boston Public Schools (dinas pendidikan setempat) memotong pos untuk kesehatan dan kesejahteraan.


Direktur program pendidikan kesehatan Barbara Huscher-Cohen menyatakan, para siswa ini membantu sekolah untuk melihat betapa pentingnya masalah ini. “Sekarang kita mengakui pendidikan seks merupakan bagian untuk membuat anak sehat,” ujarnya.


Di masa lalu, pendidikan seks di sekolah di Boston menjadi kontroversi. Aktivis Pure in Heart yang mempromosikan kesucian menyatakan, mereka ingin memastikan terlibat dalam diskusi mengenai hal ini.
 
Kontributor pendidikan CNN Steve Perry menyatakan, yang terpenting adalah pendidikan seks tidak boleh mempromosikan seks, melainkan mengajarkan anak bagaimana mencegah kehamilan di kalangan remaja dan penularan Penyakit Menular Seksual (PMS).

Universitas Peking akan Menyaring Mahasiswa dengan Pemikiran Radikal

Kampus paling bergengsi di China, Universitas Peking berencana melaksanakan program kontroversial. Program ini berupa konsultasi untuk ‘mahasiswa yang dianggap bermasalah’.

Ada 10 indikator yang dimaksud mahasiswa bermasalah, di antaranya yang memiliki pemikiran radikal. Selain itu, mahasiswa bermasalah adalah yang memiliki prestasi akademik buruk, kecanduan internet, berasal dari keluarga miskin, serta mengidap penyakit parah.

Wakil Direktur Departemen Mahasiswa Universitas Peking Zha Jing menyatakan, mahasiswa dengan ‘pemikiran radikal’ adalah yang kritis terhadap manajemen universitas.

“Misalnya, mahasiswa yang mengkritik universitas hanya karena harga makanan di kantin dinaikkan sebesar 2 jiao (3 sen),” jelas Zha, seperti dikutip dari Chinadaily, Kamis (31/3/2011).

Namun Zha menegaskan, fokus konsultasi adalah mahasiswa yang sering gagal ujian atau sulit mengikuti pelajaran.

“Kami akan mencoba menemukan alasan mahasiswa yang nilainya buruk, sehingga kami bisa membantu mereka menyelesaikan program studi," kata Zha.

Menurut Zha, universitas tidak akan menghukum atau mengontrol mahasiswanya tapi hanya ingin ‘menciptakan lingkungan yang baik untuk pertumbuhan yang sehat’. 

 

Program ini telah diuji coba pada November tahun lalu di beberapa bagian Universitas Peking seperti Yuanpei College dan Health Science Center. Saat ini, sebanyak 10 mahasiswa dari Yuanpei College telah terdaftar dalam program konsultasi. Jika uji coba berjalan lancar, diharapkan program ini bisa diadopsi di seluruh departemen Universitas Peking pada Mei tahun ini.

Kebijakan ini menimbulkan perdebatan di masyarakat. Menurut Wakil Direktur Lembaga Penelitian Pendidikan Berbasis Abad 21 yang berbasis di Beijing, Xiong Bingqi, tidak ada lembaga pendidikan yang berhak merampas kebebasan berpikir atau berbicara para pelajarnya.

“Universitas adalah tempat untuk menumbuhkan kepribadian dan pikiran mandiri, jadi benar-benar salah jika Universitas Peking campur tangan dalam kebebasan siswa untuk mengekspresikan pendapat mereka," kata Xiong.

Seorang mahasiswa baru Universitas Peking bermarga Yang mengaku ragu atas dampak dari program ini.

“Saya tidak percaya, Anda dapat meningkatkan prestasi akademis mahasiswa atau mengubah kepribadian seseorang dengan cara berbicara," kata Yang.

Namun, Sun Dianjianyi, mahasiswa tahun pertama di Universitas Health Science Center menyambut baik kebijakan baru ini. Menurutnya, kebanyakan sarjana yang lahir pada era 90-an, terlalu egois.

“Ini merupakan cara yang baik agar emosi mereka semakin matang dan mengajar mereka cara bergaul dengan teman sekelas dan terjun ke dalam masyarakat,” jelasnya.

Pendidikan Kewirausahaan Baru Sebatas Konsep

Pengangguran dan kemiskinan masih menjadi probem klasik yang dihadapi bangsa ini. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya jumlah wirausahawan yang hanya 0,24% dari total jumlah penduduk Indonesia. Jumlah itu termasuk sangat rendah jika dibandingkan Negara maju seperti Amerika yang memiliki wirausahawan sekitar 11% dan Singapura sebanyak 7% dari jumlah penduduknya.

Rendahnya kemauan berwirausaha mengakibatkan rendah pula tingkat kesejahteraan dan keterbatasan kesempatan kerja. Untuk itu, transformasi pendidikan kewirausahaan terutama pada pendidikan tingkat lanjutan dan tinggi sangat penting untuk segera dilakukan.

Hal itu diungkapkan Direktur Program Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Heru Kurnianto Tjahjono dalam Seminar Kewirausahaan yang diselenggarakan Keluarga Alumni MM UMY di lingkungan Balai Latihan Pendidikan Teknik, provinsi DIY, Rabu (30/3/2011).

Seminar ini terselenggara berkat kerja sama dengan BLPT Provinsi DIY dan didukung program studi MM UMY. Hadir pula sebagai pembicara dalam acara ini Untung Sukaryadi, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi DIY dan Kepala BLPT Bambang Budi Sulistyo.


Heru dalam uraiannya menekankan pentingnya pendidikan kewirausahaan dalam dunia pendidikan. Berdasar riset yang ia lakukan, konsep pendidikan kewirausahaan dalam dunia pendidikan masih sebagai konsep pelengkap sehingga kewirausahaan masih saja berkutat pada konteks pengetahuan dan hanya sedikit keterampilan.

Heru lebih lanjut menegaskan bahwa perubahan dalam pendidikan wirausaha harus segera diwujudkan. “Transformasi pendidikan kewirausahaan harus segera diwujudkan dalam mewujudkan pemahaman konsep (knowledge), peningkatan keterampilan (skill) dan perubahan perilaku (attitude). Output dari pendidikan kewirausahaan adalah sikap mental untuk memulai berwirausaha” ungkapnya.

Sementara itu, Untung Sukaryadi, memaparkan ada beberapa permasalahan pokok yang kini dihadapi dunia ketenagakerjaan. Salah satunya adalah, belum adanya link and match antara sistem pendidikan nasional dan sistem ketenagakerjaan nasional. Selain itu kurangnya pendidikan kewirausahaan (enterpreneurship) bagi angkatan kerja mengakibatkan kesempatan kerja belum bisa terbuka luas. Ditambah lagi kesempatan kerja di luar negeri  (labour skill) banyak yang belum terisi karena minimnya kompetensi calon tenaga kerja.

Di DIY sendiri, masih menurut Untung, tingkat pengangguran masih relatif tinggi. Hal itu disebabkan oleh rendahnya keterbatasan kerja. Data tahun 2010 menunjukkan di Propinsi DIY terdapat 122.225 orang penganggur atau sekitar 6,48% jumlah penduduk dan sekitar 7,19% atau 11.910 orang adalah yang berpendidikan tinggi.

Kapan Waktu yang Tepat Mulai Sekolah?

Kapan waktu yang tepat untuk sekolah? Sesungguhnya, usia wajib sekolah berbeda-beda di dunia. Di Irlandia Utara, usia wajib mulai sekolah adalah pada usia empat tahun. Di Inggris, Skotlandia dan Wales, Belanda serta Australia, usia wajib sekolah adalah lima tahun. Sementara di Austria, Belgia, Republik Ceko, Perancis dan Spanyol, adalah enam tahun dan di Swedia adalah tujuh tahun.  
Profesor pendidikan di Universitas Sheffield, Greg Brooks meyakini, “tekanan tidak diperlukan pada anak kecil”. Pasalnya, anak-anak berkembang dengan cara yang berbeda. Sebagai contoh, tidak ada kesepakatan universal soal usia terbaik untuk mulai belajar membaca.
 
“Mendapatkan kualitas terbaik pada usia dini adalah hak (termasuk waktu) lebih penting daripada usia kapan memulai sekolah,” ujarnya.

Sementara itu, profesor studi anak dini usia di University of Meloburne Australia, Kay Margetts menyatakan seberapa baik anak muda menghadapi kondisi “nyata” di sekolah dapat berdampak panjang terhadap pendidikan mereka. Jika seorang anak tidak siap, mereka mungkin harus mengulang dan ini bisa menjadi pengaruh yang sangat buruk pada masa depan mereka.
 

“Transisi ke sekolah melibatkan penyesuaian terhadap pengalaman baru, tantangan fisik, sosial, perilaku dan akademis serta harapan. Cara setiap anak meresponsnya akan berdampak pada kemajuan dan masa depan mereka,” katanya.

Untuk itu, anak harus memiliki keterampilan untuk mengatasi transisi serta berkembang dalam situasi yang asing dan akademik.
 
“Ini mengenai perpindahan dari lingkungan yang ramah di pra-sekolah atau rumah menuju rasio orang dewasa dan anak yang sangat berbeda. Semakin banyak anak bisa melakukan untuk dirinya sendiri, semakin berhasil mereka di sekolah,” jelasnya, seperti dikutip dari Telegraph, Kamis (31/3/2011).

Lantas, kapan waktu yang tepat mengetahui seorang anak siap sekolah? Pertama, pertimbangkan kemampuannya untuk mandiri. Masa penyesuaian harus dihitung, ini seharusnya berlangsung tidak lebih dari enam bulan. Semakin banyak pengalaman didapatkan anak sebelum sekolah, semakin baik mereka akan menghadapi sekolah.
 
Indikator “kesiapan” termasuk tingkat ketenangan dan kemampuan untuk mengatasi bila ada sesuatu yang salah, bisa berbicara dengan jelas kepada orang dewasa sehingga mereka dapat berbicara kala membutuhkan bantuan, pemahaman pentingnya berbagi dan bermain dengan anak lain, dan beberapa tanggung jawab dini sehingga bisa menjaga barang kepunyaan mereka.

Selain kesiapan emosional untuk sekolah dan kepercayaan diri untuk mendapatkan teman, pertimbangkan juga seberapa baik anak mengembangkan keterampilan motorik. Dapatkah anak memegang pensil dengan benar? Dapatkah menggambar dalam bentuk sederhana? Menulis nama mereka? Menggunakan pakaian sendiri? Menggunakan gunting? Melompat, meloncat serta mengikat tali sepatu sendiri?

Ketidakmampuan melakukan hal-hal ini dapat membuat anak kehilangan kepercayaan diri saat sekolah. Kemungkinan, dia akan memukul dan dikucilkan oleh teman-temannya, yang akan membuatnya merasa tidak bahagia untuk sekolah
.

Things To Do Before Graduate

Masa kuliah memang sangat menyenangkan untuk dijalani tanpa beban. Tapi, tak ada salahnya jika kamu memiliki sebuah daftar hal-hal yang ingin kamu lakukan sebelum lulus. Simak contekannya.

Dalam buku 101 Things To Do Before You Graduate, Patricia Hudak dan Jullien Gordon menuliskan hal-hal seru agar para mahasiswa dapat memaksimalkan pengalaman mereka dan bersiap menghadapi dunia.

Berikut sepuluh poin pertama yang mereka jabarkan seperti dilansir The Huffington Post.
1. Selesaikan rencana akademismu
Setiap menit yang kamu habiskan dalam perencanaan waktumu di kampus akan meningkatkan keinginanmu lulus tepat waktu, atau bahkan lebih cepat. Dengan memiliki rencana, kamu tak hanya akan mampu mengambil berbagai mata kuliah wajib, tetapi juga membuka kesempatanmu untuk mengambil mata kuliah di semester selanjutnya lebih cepat, menulis skripsi, atau mengambil kuliah singkat di luar negeri.

2. Bertemu dengan dosen walimu setidaknya tiga kali dalam setahun
Dosen wali seharusnya bisa menjadi teman terbaikmu di kampus. Dia bisa menjadi seperti seorang penasihat keuangan pribadi atau seorang pelatih yang membantumu dalam navigasi perjalananmu. Selain dosen wali, kamu juga bisa mendapat bantuan dari orang lain.

3. Temui dosenmu di jam kerja
Jangan merasa terintimidasi oleh dosenmu, terlebih oleh mereka yang mendapat julukan "killer". Sebenarnya, mereka ingin membantumu, loh. Mereka ingin berbagi hasrat tentang ilmu kepadamu, karena itulah mereka mengajar. Bertanyalah kepada mereka, dan izinkan mereka mengenalmu. Jika mereka tidak mendekatimu, maka kamulah yang harus mendekati mereka.

4. Temui ketua jurusanmu
Ketua jurusan (kajur) mengetahui tak hanya perkembangan dunia kerja dalam bidangmu, tetapi juga dosen dan mata kuliah mana yang harus kamu ambil untuk perkembangan studimu. Tiap jurusan memiliki kesempatan yang berbeda bagi mahasiswanya, misalnya untuk beasiswa, berbagai kegiatan, dan kesempatan kerja. Makanya, temenan dengan kajurmu, ya!

5. Ajak dosen makan siang
Seorang dosen adalah orang yang tepat untuk kamu ikutsertakan dalam jaringan yang kamu bangun. Dosen dapat berfungsi sebagai penghubungmu dengan kampus dan semua sumber dayanya. Mereka tak hanya membantumu belajar lebih tentang jurusanmu, tetapi juga mengenalkanmu pada orang-orang di dunia kerja yang mungkin saja mempekerjakanmu. Seru, kan?

6. Belajar ke luar negeri


Seiring perkembangan dunia yang mengglobal, memiliki perspektif internasional akan memberimu keuntungan dalam hidup dan kariermu. Pekerja suka menghabiskan waktu untuk bepergian ke luar negeri, sebab hal itu memperluas pengetahuan serta menunjukkan inisiatif dan ide mereka.

7. Bertanya di dalam kelas


Ini adalah kesempatanmu untuk menjadi pahlawan dan tetap rendah hati. Di satu sisi, kamu mendapat kesempatan untuk menanyakan pertanyaan yang ingin diajukan semua orang di kelas. Di sisi lain, dengan menanyakan hal itu, kamu akan tunjukkan bahwa kamu memang bingung atau benar-benar tidak mengetahui materi yang kamu tanyakan. Pada akhirnya, kamu membantu semua orang. Kamu membantu dosen untuk menjadi pengajar yang lebih baik. Kamu membantu teman sekelasmu. Dan kamu membantu dirimu menemukan kepastian.

8. Belajar bahasa asing

Di era globalisasi ini, makin banyak orang berbicara dalam beberapa bahasa. Inggris hanyalah salah satu dari empat bahasa yang banyak dipakai di dunia ini. Selain Inggris, ada bahasa Mandarin, India, dan Spanyol. Seiring mengecilnya dunia, kemampuan berkomunikasi akan menjadi keahlian yang berharga.

9. Ambil mata kuliah non-jurusan
Cobalah untuk mengambil mata kuliah yang tidak ada hubungannya dengan jurusanmu. Pilih subjek yang memnag menarik perhatianmu sejak lama tapi kamu belum memiliki waktu dan sumber daya untuk mengeksplorasinya. Tapi ingat, jangan mengambil mata kuliah itu hanya karena kamu pikir akan mudah. Siapa tahu, kelas yang kamu pilih secara acak ini justru akan menjadi penentu perubahan dalam hidupmu.

10. Melakukan penelitian dengan dosen
Riset adalah kemampuan dasar untuk pemecahan masalah secara efektif. Dan, jika penelitian itu dilakukan dengan baik dan benar, ia akan mengumpulkan berbagai pemikiran atau pertanyaan tentang suatu topik khusus, yang dapat digunakan untuk menciptakan nilai lebih baik bagi dunia. Ini adalah kesempatanmu untuk memperdalam pemahamanmu tentang materi kuliah dan kemampuanmu. Tidak hanya itu, dengan meneliti bersama dosen, kamu juga bisa mengembangkan hubungan dengan dosen yang kamu kagumi, kan?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More